Share Good Things

FIKES UPNVJ – Program Studi Kesehatan Masyarakat Program Sarjana, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), secara resmi membuka kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) Tahun 2026 sebagai bagian dari proses pembelajaran mahasiswa yang mengintegrasikan pengetahuan akademik, pengalaman langsung di masyarakat, serta kontribusi nyata melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan pembukaan dilaksanakan pada Kamis, 20 Agustus 2026 dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur Program Studi Kesehatan Masyarakat UPNVJ, Fakultas Ilmu Kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Depok, Kecamatan Bojongsari, kelurahan, Puskesmas Bojongsari, hingga unsur masyarakat di wilayah pelaksanaan PBL.

Kegiatan diawali dengan registrasi peserta, pembukaan dan pembacaan doa, serta menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Mars Depok, dan Mars Bela Negara. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Koordinator Program Studi Kesehatan Masyarakat Program Sarjana UPNVJ, Dr. Suparni, S.T., M.K.K.K., dilanjutkan oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Agustiyawan, SST.FT., M.Fis., Ftr., AIFO, serta Camat Bojongsari, Drs. Suryana Yusup. Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, dr. Juri Hendrajadi, M.P.H  dr. Juri Hendrajadi, M.P.H

Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah penyerahan secara resmi mahasiswa PBL dari pihak Program Studi Kesehatan Masyarakat kepada pemerintah wilayah tempat kegiatan berlangsung, yang dilanjutkan dengan penandatanganan Implementation Agreement (IA). Agenda tersebut melibatkan unsur UPNVJ diwakili Dr. Suparni, S.T., M.K.K.K, Dinas Kesehatan Kota Depok diwakili dr. Juri Hendrajadi, M.P.H, Kecamatan Bojongsari diwakili Drs. Suryana Yusup, M.Si, Puskesmas diwakili dr. Nunik Setyorini, serta perwakilan Kelurahan Bojongsari Baru oleh Adeyasya Aziza, S.STP., M.IP. dan dari Kelurahan Curug oleh Ahmad Sofyan, SE.

Penyerahan dan penandatanganan IA menjadi bagian penting dalam membangun sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan mendukung proses pembelajaran mahasiswa sekaligus memastikan kegiatan lapangan dapat memberikan manfaat yang sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat di masing-masing wilayah.

PBL sebagai Pembelajaran sekaligus Pengabdian kepada Masyarakat

Pelaksanaan Pengalaman Belajar Lapangan tidak hanya menjadi wahana bagi mahasiswa untuk menerapkan teori dan metode kesehatan masyarakat yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga menjadi sarana pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengenali permasalahan kesehatan secara langsung bersama masyarakat, menyusun prioritas masalah berdasarkan kondisi lapangan, serta merancang dan melaksanakan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Rangkaian PBL dilaksanakan secara berkesinambungan melalui PBL 1 dan PBL 2. Kedua tahap tersebut dirancang agar mahasiswa mengalami secara langsung proses kesehatan masyarakat mulai dari pengumpulan dan analisis data, identifikasi masalah, penentuan prioritas, perencanaan program, hingga pelaksanaan intervensi.

Pada PBL 1, mahasiswa dalam setiap kelompok melakukan pengumpulan data kesehatan dan data pendukung lainnya secara langsung di masyarakat pada wilayah masing-masing. Data tersebut selanjutnya dianalisis untuk memperoleh gambaran kondisi kesehatan masyarakat serta mengidentifikasi berbagai permasalahan kesehatan yang ditemukan di lapangan.

Mahasiswa kemudian melakukan proses penentuan dan pengurutan prioritas masalah kesehatan berdasarkan hasil pengumpulan dan analisis data tersebut. Penetapan prioritas dilakukan pada dua tingkat, yaitu tingkat kelompok yang merepresentasikan permasalahan kesehatan di wilayah masing-masing serta tingkat individu melalui program keluarga binaan.

Melalui program keluarga binaan, setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk mendampingi keluarga tertentu sehingga dapat memahami kondisi kesehatan secara lebih komprehensif, termasuk berbagai faktor perilaku, lingkungan, sosial, maupun faktor lain yang berkontribusi terhadap masalah kesehatan keluarga. Pendekatan ini diharapkan dapat melatih mahasiswa untuk melihat masalah kesehatan tidak hanya dari perspektif populasi, tetapi juga dari kondisi nyata yang dihadapi oleh keluarga.

Hasil dari PBL 1 selanjutnya menjadi dasar pelaksanaan PBL 2. Pada tahap PBL 2, mahasiswa melaksanakan intervensi terhadap masalah kesehatan yang telah ditetapkan sebagai prioritas pada PBL 1. Intervensi dilakukan baik dalam bentuk program kelompok pada tingkat masyarakat maupun intervensi pada keluarga binaan sesuai dengan masalah dan kebutuhan yang telah teridentifikasi sebelumnya.

Dengan demikian, PBL tidak berhenti pada kegiatan pengumpulan data maupun identifikasi masalah. Mahasiswa juga dituntut untuk menerjemahkan hasil temuan lapangan menjadi tindakan nyata melalui program intervensi yang relevan, terencana, dan sesuai dengan karakteristik masyarakat sasaran. Pola ini memperkuat kesinambungan antara asesmen kebutuhan masyarakat, penetapan prioritas masalah, perencanaan, pelaksanaan intervensi, dan kontribusi terhadap peningkatan kesehatan masyarakat.

Memperkuat Kolaborasi dengan Masyarakat

Setelah rangkaian pembukaan, Koordinator Mata Kuliah Pengalaman Belajar Lapangan, Dr. Januar Ariyanto, S.K.M., M.Kes., memberikan pemaparan mengenai pelaksanaan PBL. Kegiatan dilanjutkan dengan panel bersama Kepala Puskesmas Bojongsari untuk memberikan gambaran mengenai kondisi serta konteks kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Bojongsari.

Sebagai bagian dari orientasi awal kegiatan lapangan, mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk melakukan diskusi langsung bersama Ketua RW dan RT di wilayah masing-masing. Dialog ini menjadi tahapan awal yang penting bagi mahasiswa untuk mengenali karakteristik masyarakat, membangun komunikasi dengan tokoh masyarakat, serta memperoleh gambaran awal mengenai kondisi dan permasalahan kesehatan yang terdapat di wilayah pelaksanaan PBL.

Keterlibatan berbagai pihak menjadi unsur penting dalam PBL karena permasalahan kesehatan masyarakat tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan akademik. Dibutuhkan kolaborasi antara mahasiswa, dosen, pemerintah daerah, Puskesmas, kelurahan, perangkat wilayah, tokoh masyarakat, dan masyarakat itu sendiri agar program yang disusun sesuai dengan kebutuhan dan dapat diterima oleh masyarakat.

Melalui PBL, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu mengaplikasikan konsep serta metode kesehatan masyarakat, tetapi juga mengembangkan kemampuan berkomunikasi, melakukan asesmen kebutuhan masyarakat, menganalisis dan memprioritaskan masalah, merencanakan intervensi, bekerja dalam tim, membangun kemitraan, serta melakukan pemberdayaan masyarakat.

Pengalaman berinteraksi secara langsung dengan masyarakat juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa setiap wilayah maupun keluarga memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, intervensi kesehatan masyarakat perlu dirancang berdasarkan data dan kebutuhan nyata, bukan semata-mata berdasarkan asumsi.

Pelaksanaan PBL 1 dan PBL 2 sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui integrasi antara pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang kontekstual, sementara masyarakat diharapkan memperoleh manfaat dari proses identifikasi masalah, edukasi, pemberdayaan, serta berbagai bentuk intervensi kesehatan yang dilaksanakan.

Dengan dibukanya kegiatan PBL Tahun 2026, Program Studi Kesehatan Masyarakat Program Sarjana UPN “Veteran” Jakarta menegaskan komitmennya untuk menghadirkan proses pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga membentuk mahasiswa yang mampu belajar bersama masyarakat, memahami kebutuhan masyarakat, serta memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Chat with Us!