Dosen Gizi UPNVJ Wakili Indonesia dalam SDG Alumni Project Jerman 2026, Soroti Sistem Pangan Berkelanjutan dan Stunting
- February 11, 2026
- Admin
- 0
FIKES UPNVJ – Bagaimana sistem pangan berkelanjutan dapat berkontribusi terhadap penurunan stunting di Indonesia? Pertanyaan ini menjadi benang merah keikutsertaan Dian L. Sufyan (33), dosen dan peneliti Program Studi Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UPN Veteran Jakarta (UPNVJ), dalam kegiatan SDG Alumni Project di Jerman pada 7–19 Januari 2026. Dian mewakili UPNVJ setelah lolos seleksi ketat oleh Universität Kassel, Jerman, dalam program peningkatan kapasitas alumni beasiswa German Academic Exchange Service (DAAD) bertema organic value chains atau rantai nilai pangan organik.
Kegiatan yang berlangsung di Kota Witzenhausen dan Berlin tersebut mempertemukan alumni DAAD dari negara-negara Global South—Asia Tenggara, Asia Selatan, Amerika Selatan, dan Afrika—untuk membahas isu pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya sektor pangan dan nutrisi.
“Tema tahun ini sangat relevan dengan agenda global karena sistem pangan tidak lagi hanya berbicara soal kuantitas, tetapi juga kualitas dan dampaknya terhadap lingkungan,” ujar Dian.
Pada pekan pertama di Witzenhausen, Dian mengikuti seminar, lokakarya, dan kunjungan lapangan yang menitikberatkan pada sistem pangan berkelanjutan, pemasaran produk organik, serta penguatan rantai nilai. Ia mempresentasikan inisiatif hydroponic urban farm yang dirintis sejak 2017 sebagai alternatif peningkatan konsumsi sayuran rumah tangga.
“Urban farming dapat menjadi strategi intervensi gizi berbasis komunitas yang terjangkau dan adaptif di kawasan perkotaan,” katanya.
Peserta juga mengunjungi Upländer Bauern Molkerei, koperasi susu organik berdiri sejak 1898 yang memproduksi susu dan olahannya secara regional, serta Naturkost Elkershausen, perusahaan grosir pangan organik yang memasok buah, sayur, produk susu, dan minuman. Dari kunjungan tersebut, Dian melihat langsung bagaimana sertifikasi organik dengan label “bio” telah menjadi standar umum di pasar Jerman.
“Produk organik di sini bukan lagi sekadar pilihan, tetapi telah menjadi gaya hidup masyarakat,” ujarnya.

Memasuki pekan kedua, kegiatan berlanjut di Berlin melalui partisipasi dalam Global Forum for Food and Agriculture (GFFA) 2026 dan pameran internasional International Green Week (Grüne Woche). Tahun ini GFFA mengangkat tema “Air” sebagai isu sentral kebijakan pangan dan pertanian global. Forum tersebut menghadirkan politisi, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat sipil untuk merumuskan solusi ketahanan pangan. Dalam forum itu, Utusan Khusus PBB untuk bidang air, Retno Marsudi, menyerukan pendekatan terpadu antara air dan pertanian, termasuk penguatan data sumber daya air, sistem peringatan dini, irigasi tangguh iklim, serta restorasi lahan.
Menurut Dian, pengalaman tersebut membuka perspektif baru tentang pentingnya integrasi kebijakan pangan, lingkungan, dan kesehatan. Ia menilai pengembangan pasar pangan organik di Indonesia masih menghadapi tantangan harga dan dukungan kebijakan.
“Dari diskusi bersama peserta Asia Tenggara, kami menyimpulkan tiga langkah strategis, yakni pemberian insentif bagi produsen organik, peningkatan kesadaran konsumen, serta penguatan rantai bisnis dan sertifikasi produk,” ujarnya.
Sebagai peneliti yang tengah menempuh studi doktoral di Inggris dengan fokus regulasi konsumsi energi dan perilaku konsumsi jajanan terhadap stunting balita, Dian melihat keterkaitan erat antara kebijakan pangan nasional dan penurunan prevalensi stunting. Ia tengah menganalisis data survei nasional periode 2013–2023 untuk mengidentifikasi prediktor penurunan stunting.
“Data empiris menunjukkan prevalensi stunting Indonesia menurun dalam satu dekade terakhir. Namun, kita perlu melihat faktor tidak langsung seperti ketahanan pangan—ketersediaan, keterjangkauan, pemanfaatan, dan kestabilan—yang berkontribusi signifikan,” jelasnya.
Ia menegaskan, sistem pangan berkelanjutan menuntut pendekatan lintas sektor atau breaking silos untuk menghilangkan sekat antarlembaga. Melalui SDG Alumni Project, peserta dari negara berkembang memperoleh ruang menyuarakan tantangan spesifik di masing-masing negara sekaligus berbagi solusi alternatif.
Rektor UPN Veteran Jakarta, Prof. Dr. Anter Venus, MA, Comm, menyatakan partisipasi dosen UPNVJ dalam forum internasional merupakan bagian dari penguatan peran kampus dalam agenda SDGs dan kerja sama global. “Sebagai perguruan tinggi beridentitas bela negara, UPNVJ mendorong integrasi isu keberlanjutan dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Keterlibatan dosen di forum internasional memperkuat reputasi akademik sekaligus membuka peluang kolaborasi strategis,” ujarnya.
Keikutsertaan Dian dalam SDG Alumni Project 2026 tidak hanya memperluas jejaring internasional UPNVJ, tetapi juga mempertegas komitmen kampus dalam mendukung kebijakan berbasis riset untuk ketahanan pangan dan perbaikan gizi nasional.
