• Pilih Bahasa :
  • indonesian
  • english

Semarak Ramadhan (SERAM) HIMADIKA

  • Terakhir diperbaharui : Minggu, 25 April 2021
  • Penulis : Devi Puspita Sari, S.Komp
  • Hits : 804

FIKES UPNVJ - Pada hari Sabtu, 24 April 2021 telah berlangsung kegiatan SERAM (Semarak Ramadhan) Himpunan Mahasiswa Keperawatan Program Diploma Tiga UPN Veteran Jakarta dengan tema “Merajut Iman, Kuatkan Silaturahmi dengan Menyambut Ramadhan Penuh Makna”. Kegiatan ini dilakukan via online melalui zoom meeting. Jumlah peserta yang hadir dalam via zoom meeting yaitu sekitar 57 peserta. Kegiatan ini telah dihadiri oleh Kepala Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga yaitu Ns. Rokhaidah, M.Kep., Sp.Kep.An, dan seluruh Mahasiswa Aktif Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga UPN Veteran Jakarta.

Seram1.jpg

Acara ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus sebagai alat dalam rangka membersihkan diri, hati, dan jiwa manusia dari perbuatan keji (dosa). Sebagaimana yang kita ketahui bahwa bulan ramadhan merupakan bulan yang penuh hikmah/kebajikan bagi umat manusia yang dimana pada saat itu amalan ibadah manusia akan Allah SWT lipat-gandakan pahalanya. Selain bertujuan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT, acara ini tentunya bertujuan untuk merajut kembali tali silaturrahim, keakraban maupun kekerabatan keluarga besar Mahasiswa dan Dosen Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Fakultas Ilmu Kesehatan UPN Veteran Jakarta. Hal ini bermaksud untuk memberikan  pemahaman yang menyeluruh tentang pentingnya menghidupkan bulan ramadhan dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan positif yang dimana salah satu dari kegiatan tersebut adalah dengan cara bersilaturrahim.

Seram2.jpg

Acara Semarak Ramadhan (SERAM) oleh Himpunan Mahasiswa Keperawatan Program Diploma Tiga (HIMADIKA) UPN Veteran Jakarta 2021 ini dibawakan oleh Muhammad Anwar Fathoni, Lc., MA., sebagai narasumber dengan judul “Meningkatkan Iman dan Silaturahmi di bulan Ramadhan”.

Dalam ceramah yang disampaikan oleh Muhammad Anwar Fathoni, Lc., MA, menjelaskan bahwa Iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan beramal dengan badan. Sebagaimana telah dikisahkan dalam (HR Muslim, no.8) Umar bin Khatthab Radhiyallahu’anhu berkata : Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam adalah ketika engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya”. “Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.

Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab,”Iman adalah ketika engkau beriman kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya, hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk”. Ia berkata, “Engkau benar.” Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.” Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no.8]

Kemudian narasumber menjelaskan kembali pengertian dari silaturahmi. Menurutnya, silaturahmi bukanlah yang saling membalas kebaikan tetapi seorang yang berusaha menjalin hubungan baik meski lingkungan terdekat merusak hubungan persaudaraan dengan dirinya

Keutamaan Silaturahmi :

  • Mendekatkan diri pada Surga dan menjauhkan diri dari Neraka
  • Dilapangkan rizki dan dipanjangkan umur (keberkahan umur)
  • Menyambung hubungan dengan Allah

Seram3.jpg

Dikisahkan bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”.

Selanjutnya acara dilanjutkan pembacaan ayat suci al-qur’an QS: Al-Baqarah 2: 185 lengkap dengan sari tilawahnya yang dibacakan oleh Dimas Zuhrul Anam dan Jihan Ayu Pramu Sinta selaku mahasiswa aktif keperawatan program diploma tiga.

Seram4.jpg

Kandungan dalam QS: Al-Baqarah 2: 185 ialah keutamaan bulan puasa dan kewajiban mengganti puasa dilain kesempatan apabila meninggalkan. Dijelaskan bahwa bulan Ramadhan ialah sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Sedangkan kewajiban mengganti puasa itu bersifat mutlak. Saat kita berhalangan puasa di bulan Ramadhan, maka wajib bagi kita untuk menggantinya dilain waktu sebanyak hari yang ditinggalkan. (Berlian Rahmah).

SERAM.jpg

Informasi