• Pilih Bahasa :
  • indonesian
  • english

Kegiatan Imunisasi ORI ( Outbreak Response Immunization) Difteri

  • Terakhir diperbaharui : Rabu, 07 Pebruari 2018
  • Penulis : Devi Puspita Sari, S.Komp
  • Hits : 155

Depok, Rabu tanggal  7 Februari 2018, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta telah dilaksanakannya Kegiatan Imunisasi ORI ( Outbreak Response Immunization) Difteri di gedung FIKES Lantai 4, Ruang Lab Keperawatan, yang dihadiri oleh Petugas dari Dinas Kesehatan Puskesmas Grogol Kec. Limo, Depok- Jawa Barat dr. Agus Gozali dan TIM Medis, dan didukung oleh Dosen Keperawatan yaitu Kajur Keperawatan Ns. Santi Herlina, S.Kep, M.Kep, Sp.Kep MB, Plth Kaprodi Profesi Ners Ns.Wiwin Winarti, S.Kep, M.Kep, Kaprodi DIII keperawatan Ns. Chandra Tri Wahyudi, S.Kep, M.Kes dan Tim Lainnya serta Mahasiswa keperawatan. Mahasiswa yang mendapatkan Imunisasi ORI ( Outbreak Response Immunization) Difteri adalah anak usia 1 - < 19 tahun. Untuk anak usia 1 - < 5 tahun mendapatkan DPT-HB-HIB, anak usia 5 - < 7 tahun mendapatkan DT, dan usia 7 - < 19 tahun mendapatkan imunisasi Td, serta dilaksanakan sebanyak 3 putaran dengan interval 0-1-6 bulan, yaitu pada Desember 2017 (putaran pertama), Januari 2018 (putaran kedua), dan Juli 2018 (putaran ketiga). Dan, pemberian imunisasi ini diberikan tanpa melihat status imunisasi sebelumnya. mahasiswa yang mendapatkan ORI terdiri dari 506 mahasiswa Fikes UPN Veteran Jakarta yang diberikan oleh 5 program Studi yaitu S1 Keperawatan =150 mhs, S1 Kesehatan Masyarakat = 148 mhs, S1 Ilmu Gizi = 112 mhs, DIII Keperawtan =9 mhs dan DIII Fisioterapi = 87 mhs. 

6.jpg

Outbreak Response Immunization (ORI) adalah salah satu upaya penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) suatu penyakit dengan pemberian imunisasi. ORI merupakan strategi untuk mencapai kekebalan individu dan komunitas hingga sebersar 90-95%. Sehingga KLB difteri bisa diatasi.

Tahun 2017, Indonesia mengalami KLB difteri di 20 provinsi. Hingga November 2017, terdapat 593 kasus dan 32 kematian yang dilaporkan. Sehingga, menempatkan Indonesia di posisi nomor dua dengan kasus difteri terbanyak di Dunia setelah India.  Berbeda pada tahun sebelumnya, rentang usia penderita difteri dari usia 3,5 tahun hingga usia 45 tahun yang tertua pada tahun 2017. Data Ditjen P2P Kemenkes, disebutkan bahwa 66 persen dari jumlah prevalensi tidak melakukan imunisasi, tiga puluh satu persen melakukan imuniasi, tetapi status imunisasinya tidak lengkap. Padahal, untuk terbebas dari difteri, setidaknya harus mendapatkan tiga kali penyuntikan.

4.jpg

Difteri merupakan penyakit menular yang disebakan oleh bakteriCorynebacterium diphtheriae, penyakit ini ditularkan melalui percikan ludah atau dahak penderita difteri. Bakteri ini menyerang selaput hidung, tenggorok atau kadang kulit. Toksin yang dikeluarkan dapat mematikan sel-sel hidup di tenggorok sehingga menghasilkan lapisan membran yang dapat menyumbat saluran pernapasan. Selain itu, jika toksin menyebar ke pembuluh darah, dapat menyebar dan merusak jaringan lain seperti saraf, jantung dan ginjal, sehingga risiko kematian tinggi pada penderita difteri. Terlebih jika pasien difteri terlambat ditangani.

Penyakit difteri dapat dicegah dengan pemberian imunisasi DTP (Difteri Tetanus Pertusis) sebanyak empat kali untuk anak sampai usia 18 bulan. Dan, diulang saat anak di kelas 1, 2 dan 5 sekolah dasar (BIAS) agar anak mendapatkan perlindungan yang optimal.

3.jpg

1.jpg

 Petugas Puskesmas Grogol Kec. Limo dan Petugas Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan

7.jpg

Ns. Santi Herlina, S.Kep. M.Kep, Sp. Kep MB sedang memberikan Imunisasi ORI ( Outbreak Response Immunization) Difteri kepeda mahasiswa

Informasi

Newsletter

Daftar sekarang untuk menerima berita terkini, lowongan kerja, dan informasi lainnya.

Follow Us On

f